Pages

Subscribe:

Labels

Senin, 31 Oktober 2011

Geologi Regional Barru

GEOLOGI REGIONAL BARRU


.1 Geomorfologi Regional

Kabupaten Barru dan sekitarnya merupakan pegunungan dan padan umumnya terdapat didaerah bagian timur,wilayah bagian barat merupakan pedataran yang relative sempit dan dibatasi oleh selat makasar.Daerah ini menyempit ke Utara dan dibatasi oleh perbukitan dengan pola struktur yang rumit,kemudian di sebelah selatan dibatasi oleh pegunungan yang disusun oleh Batugamping.
Proses Geomorfologi merupakan perubahan yang dialami oleh permukaan bumi baik secara fisik secara fisik maupun kimia (THORNBURY 1954) penyebab dari proses perubahan tersebut dapat dibagi atas 2 golongan yaitu :
1. Tenaga Eksogen
Tenaga ini bersifat merusak,dapat berupa angina,suhu,dan air.Dengan adanya tenaga Eksogen dapat terjadi proses denudasi berupa erosi,pelapukan,dan degradasi.
2. Tenaga Endogen
Tenaga ini cenderung untuk membangun,dapat berupa gempa,gaya-gaya pembentuk struktur dan vulkanisme akibat dari adanya tenaga endogen maka dapat terbentuk struktur gunung api dan agradasi.
Dengan adanya tenaga-tenaga tersebut diatas maka terbentuknya bentang alam dengan kenampakan yang berbeda satu sama lainnya sesuai dengan tenaga yang mempengaruhi pembentukannya.
Kenampakan bentang alam di daerah Barru umumnya merupakan daerah perbukitan dan pegunungan dimana puncaknya sudah nampak meruncing dan sebagian lagi nampak membulat.Perbedaan tersebut disebabkan oleh karakteristik masing-masing batuannya.Pengaruh struktur dan tingkat perkembangan erosi yang telah berlangsung dan akhirnya menghasilkan kenampakan bentang alam seperti yang nampak sekarang ini.


Berdasarkan hal tersebut diatas maka pengelompokan satuan morfologi di daerah Barru dapat dibagi berdasarkan pada struktur geologi dan batuan penyusunnya serta proses geomorfologi yang mempengaruhi bentuk permukaan bumi yang nampak sekarang pembagian satuan morfologi adalah sebagai berikut :
1. Satuan morfologi perbukitan Gawir sesar Aledjang-Buludua.
2. Satuan morfologi pegunungan denudasi B.Masula-B.Pitu
3. Satuan Morfologi perbukitan Gawir sesar Aledjang-Buludua
Penamaan satuan morfologi ini didasarkan atas struktur geologi yang lebih dominant terdapat pada daerah tersebut dan memberikan pengaruh terhadap pembentukan bentang alamnya.
A. Satuan morfologi perbukitan Gawir sesar Aledjang-Buludua
Satuan morfologi perbukitan Gawir sesar Aledjang-Buludua mempunyai sudut kemiringan lereng antara 5-20 %.Satuan morfologi ini umumnya membentuk jalur gawir sesar turun,menempati daerah-daerah bagian utara daerah penelitian yang memanjang dari dusun Galungsalawe,Bale,Ampela,dan Buludua dibagian timur.
Permukaan gawir sesar ini menghadap ke Selatan dimana permukaan gawirnya telah mengalami proses erosi lebih lanjut yang ditandai dengan adanya gerakan tanah berupa landslide di Aledjang yang akibatnya material-material hasil erosi tersebut diendapkan pada dasar tebing.Kenampakan morfologi akibat pengaruh sesar dapat pula terlihat pada kenempakan permukaan gawir yang memotong perlapisan batuan dilereng selatan B.Laposso.Kenampakan lainnya berupa ebing yang terjal dengan dasar-dasar lembah yang sempit dan landai dapat dijumpai dibeberapa tempat disepanjang jalur morfologi gawir sesar ini.
Sungai yang mengalir pada daerah satuan morfologi ini adalah sungai watu dengan beberaa anak sungai yang mengalir dari arah timur ke barat dengan tipe genetic sungai Obsekuen.Satuan batuan yang menyusun satuan morfologi ini adalah Breksi,Batugamping,dan Napal.
Proses erosi yang bekerja pada daerah ini relative besar karena sifat batuannya yang kurang resisten dan adanya aktivitas penduduk setempat yang mengadakan pengolahan lahan untuk diguinakan sebagai daerah permukiman,perkebunan,dan persawahan yang mempercepat terjadinya erosi.
B. Satuan morfologi pegunungan denudasi B.Masula-B.Pitu
Penamaan satuan morfologi ini didasarkan pada proses geomorfologi serta bentuk morfologi dan keadaan fisik batuan sebagai hasil dari aktivitas denudasi yang terjadi dan dominant terdapat pada derah tersebutAktivitas denudasi berupa proses pelapukan,erosi,dan longsoran merupakan kegiatan yang dapat merombak dan membentuk permukaan bumi.
Satuan morfologi pegunungan denudasi B.Musula-B.Pitu menyabar dibagian timur laut B.Laposso (931 m).Penyebaran satuan morfologi ini meliputi beberapa daerah pegunungan yang memenjang dari arah barat ke timur yaitu B.Matjekke (431 m),B.dua (938 m) danm B.Musula (819 m).B.Matonrong (903 m).B.Pitu (342 m),dan Kalukku (407 m) dengan sudut kemiringan antara 10-70 % Terdapat bebrapa perbukitan disekitar B.Pitu,B.Masula,dan B.Matonrong dengan arah penyebaran pegunungan bukit yang memanjang dari barat laut tenggara.
Aktivitas denudasi dipegunungan seperti B.dua memperlihatkan danya sisa-sisa erosi dan pelapukan yang mengikis senagian pegunungan tersebut.Pada beberapa tempat ditemukan adanya bukit-bukit kecil tumpul yang terbentuk akibat adanya pengaruh erosi dan pelapukan dimana keadaan soil pada bagian puncak bukit sangat tipis namun pada bagian lembah yang mempunyai soil yang tebal.
Sungai yang mengalir pada satuan morfologi ini adlah S.Birunga dengan beberapa anak sungainya yang mempunyai pola aliran dentritik dengan tipe genetik sungai Obsekuen.Satuan batuan yang menyusun satuan morfologi pegunungan denudasi ini pada umumnya terdiri dari breksi vulkanik kecuali pada daerah B.dua dan B.Matjekke batuan penyusunnya terdiri dari dari batuan beku andesit dan diorite yang merupakan satuan intrusi bentuk sill.Satuan morfologi ini sebagian digunakan oleh penduduk setempat sebagai daerah permukiman dan persawahan.
C. Pola Aliran Sungai
Sungai yang mengalir didaerah ini adalah sungai watu yang terletak didaerah barat laut dan mengalir dari arah timur ke barat dengan aliran tang tidak teratur sungai-sungai tersebut mengalir pada satuan napal dan breksi batugamping.Sungai urunga dengan beberapa anak sungainya terdapat disebelah selatan dengan aliran tegak lurus dengan sungai utama.Sungai umpung yang mengalir dari arah barat ke timur dan sungai ule mengalir dari arah utara ke selatan.Sungai tersebut mengalir pada satuan breksi vulkanik batugamping dan serpih.
Berdasarkan pada kenampakan dan data-data yang telah disebutkan maka dapatlah disimpulkan bahwa pola aliran sungainya adalah aliran rectangular dan dentritik.
D. Tipe Genetik Sungai.
Sungai-sungai yang mengalir didaerah Barru pada umumnya menunjukkan aliran yang berlawanan dengan arah kemiringan perlapisan batuan,sehingga dengan demikian dapat digolongkan sebagai sungai dengan tipe aliran Obsekuen.
E. Kuantitas air sungai
Sungai-sungai yang terdapat di Barru termasuk jenis sungai periodic dimana kuantitas airnya besar,pada musim hujan tetapi pada musim kemarau airnya kecil atau kering.
F. Stadia Daerah
Daerah Barru umumnya memperlihatkan kenampakan bentang akam berupa perbukitan dan pegunungan yang sebagian sudah tampak meruncing dan setempat-setempat terjadi penggundulan pada bukit-bukit.Bentuk lembah umumnya masih sempit dengan lereng terjal pada proses erosi lebih lanjut.
Sebagian sungai nampak menempati dasar lembah dan relative lurus dengan aliran yang tidak begitu deras,disamping itu pula dataran pedaratan belum begitu meluas.
Berdasarkan pada kenampakan dari cirri-ciri bentang alam seperti yang telah disebutkan maka dapatlah disimpulkan bahwa stadia daerah termasuk dalam stadia muda manjelang Dewasa.

2. Stratigrafi Regional
Daerah Barru disusun oleh beberapa satuan batuan dan tersebar pada jenis bentang alam yang berbeda atau berfariasi dan telah mengalami gangguan struktur sehingga menyebabkan jurus dan kemiringan perlapisan batuan menjadi tidak beraturan.Sebagian batuannya telah mengalami pelapukan dan peremukan hingga nampak kurang segar terutama pada napal.
Pengelompokkan dan penamaan satuan batuan didasarakan atas cirri-ciri fisik dilpangan, jenis batuan, posisi stratigrafi dan hubungan tektonik antar batuan dapat dikorelasikan secara vertical maupun lateral dan dapat dipetakan dalam skala 1 : 25.000.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka satuan batuan dapat digolongkan dalam 5 (lima) satuan,mulai dari satuan batuan yang muda sampai yang ke tertua yaitu sebagai berikut :
1. Satuan batuan beku intrusi
2. Satuan breksi
3. Satuan napal
4. satuan breksi batugamping tonasa
5. Satuan batupasir mallawa
6. Satuan serpih balangbaru
Pembahasan lebih lanjut dari setiap satuan batuan dari yang tertua ke yang termuda sebagai berikut :
A. Satuan serpih balangbaru
Penyebaran batuan ini tidak terlalau meluas yang menempati bagian sungai umpung dengan arah umum perlapisan baratdaya-timur laut. Ciri litologi berwarna segar ungu dan jika lapuk berwarna abu-abu dengan tekstur klastik halus berukuran lempung, dan ketebalan perlapisan berukuran antara 1-10 cm. Ukuran butir lempung dan struktur berlapis.
Lingkungan pengendapannya dari satuan serpih ini didasarkan ciri-ciri litologi dimana dijmpai perlapisan tipis dengan ukuran butir lempung yang menunjukkan lingkungan pengendapan tenang atau laut dalam.
Penentuan umur serpih diperkirakan berumur kapur termasuk dalam formasi Balangbaru. Hubungan stratigrafi dengan litologi diatasnya adalah tidak selaras.
B. Satuan batupasir Mallawa
Penamaan satuan batuan ini didasarkan atas dominasi dan pelemparan batuan penyusunnya serta cirri-ciri litologi. Penyebaran satuan batupasir ini meliputi bagian barat daerah Barru dengan arah umum perapisan berarah Utara-Selatan. Kenampakan satuan batuan ini menunjukkan adanya kesan perlapisan, dalam keadaan segar berwarna kuning kecoklatan, tekstur klastik kasar, mengandung mineral kuarsa. Dalam satuan ini terdapat angota-anggota berupa batupasir, konglomerat, batulanau, batulempung dan napal.Dengan sisipan batubar berupa lensa.
Umur satuan batuan ini diperkirakan antar Paleosen sampai Eosen Bawah, hubungan stratigrafi dengan satuan batuan dibawahnya adaklah tidak selarasa dengan satuan batuan diatasnya.
C. Satuan breksi batugamping
Penamaan satuan batuan ini didasarakan pada dominasi dan pelemparan batuan penyusunnya. Ciri litologi kompak dan keras serta bersifat karbonatan. Batruan ini terdiri atas fragmen berupa sekis,glaukonit,kuarsit, batugamping dan fosil serta matriks berupa lempung. Berdasarkan hal tersebut diatas makasatuan batuan ini dinamakan satuan breksi batugamping
Penyebaranm satuan ini meliputi sebelah barat alut dan sebagaian didaerah Buludua, yang pada umumnya menempati daerah satuan morfologi perbukitana gawir sesar Aleojang Buludua denga nsudut kemiringan lereng antara 10-20 %. Arah umum perlapisan batau relatif berarah baratlaut-tenggara dengan sudut kemiringan 25-37. ketebalan relative satuan breksi batugaming adalah 264 m.
Kenampakan satuan breksi batugamping menunjukkan adanya kesan perlapisan umum namun adapula yang terdapat dalam bentuk bongkahan. Tebal lapisan antara 16-60 cm. berwarna putikh kekuning-kuningan dalam keadaan segar dan lapuk berwarna abu-abu kehitaman. Klastik kasar dengan sortasi jelek dan mengandung fosil,mineral glukonit,muskovit,dan sekis.
Fosil yang dijumpai berupa foraminifera besar yaitu Nummulites gizehensis TAMARCK dan Discocyline indopacticia GALLOWAY. Berdasarkan cirri-ciri litologi dimana ada dijumpai perlapisan dengan tebal yang berbeda, disusun oleh mineral mineral berbutier kasar dengan pemilahan jelek dan kehadiran mineral glaukonit.
Penetuan umur dari satuan ini dari satuan ini didasarkan atas kandungan fosil yang dijumpai antar Eosen Awal sampai Eosen Tengah. Hubungan stratigrafi antar satuan breksi batugamping dengan satuan di bawahnya adalah selaras adan menjemari denga nsatuan Batunapal yang tidak selaras dengan breksi vulkaik yang berasda diatasnya. Satuan batuan ini ternmasuk dalam formasi tonasa.
D. Satuan Napal
Penyebaran satuan ini meliputi daerah Galungsalawe, Bale, dan Ampele dan sebagian terdapat di daerah timur laut.Sebagian dar isatuan batuan ini menempati daerah satuan morfologi perbukitan sesar,gawir aledjang buludua dan sebagian lagi terdapat pada daerah yang daerahnya relative datar arah umum perlapisan batuan beraraha baratlaut-tenggara dengan sudut kemiringan antara 23-840
Kenampakan satuan napal menujukkan adanya perlapisan denga n ketebalan anatar 25-50 cm. dalam keadaan segar, batuan ini berwarna putih keabuan dan lapuk berwarna kuning keabuan, tekstur klastik.
Dari hasil analisa secara mikro paleontology dijumpai fosil foraminifera plantonik yaitu Globigerina boweci HOLL dan Glubegeris indeks FINLAY sedang fosil foraminifera bentonik yaitu Textularia agglutinans D` ORBTONY. Berdasarkan kandungan fosi lini ditentukan lingkungan pengendapanya yaitu pada inner neritik-middle neritik denga n kedalaman 0-100m, atau lingkungna laut dangkal(TIPSWORD & SITTZER 1975)
Umur satuan ini yaitu Eosen Tengah bagian bawah(POSTUMA 1970) yang ditentukan dari kandungan fosilnya. Hubungan stratigrafi antara satuan in derngan batuan yang ada disekitarnya yaitu ssatuan breksi batugamping menjemari dan dengan satuan breksi vulkanik yang berada diatatasnya adalah tidak selaras. Satuan ini termasuk dalam formasi Tonasa
E. Satuan Breksi Vulkanik
Satuan breksi vulkanik penyebaranya meliputi beberapa pegunungan yaitu B. laposso, B. masula, B. matonrong, B. Pitu, B. kaluku serta pemukiman seperti menrong,parjiro adjenga,baitu,wuruwue dan litae ssebagian pula tersingkap di daerah aliran sungai kampong Litae, satuan ini menempati daerah satuan morfologi pegununga ndenudasi B. masula,B. pitu denganarah perlapisan batuan umumnya barat laut timur tenggara denga nsudut kemiringan antara 16 – 25 %.
Kenampakan dari satuan brekasi vulaknik ini menampakkan adanya perlapisan denag nkletebalan lapisan antara 35-100 cm. Fragmen batuan breksi vulkainik berupa batuan beku yaitu Basalt, andesit, matriks tufa yang disemen oleh silica denga nsortasi buruk. Ukuran fragmen yaitu antara 5-60 cm dan bentuk menyudut tanggung.
Pada satuan ini tidak dijumpai adanya fosil mikro dan makro sehingga satuan ini disebandingkan dengan batuan vulkanik camba yang barumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir. Hubungan stratigrafi dengan batuan yang ada di atasnya maupun yang ada diaatasnya adalah tidak selaras.
F. Satuan batuan beku intrusi
Satuan in terdiri dar idua anggota yaitu batuan diorite dan batuan andesit. Batuan beku diorite penyebarannya meliputi daerah B. Matjekke dan sebagian kecil terdapat disebelah selatan barat laut. Batuan ini menempati daerah satuan morfologi pegunungan denudasi B.masula, B.pitu, dalam keadaa segar batua ini berwarna abu-abu dengan struktur kompak,tekstur faneritik dan bentuk kristal subhedral-anhedral ukuran mineral 1-2,3mm.
Penentuan umur batua ndiorit disebandingkan dengan hasil peneliti terdahulu (RA SUKAMTO 1982) yaitu berumur Miosen. Kenampakan batuan ini dalam keadaan segara menampakkan warna abu-abu kehitaman, struktur vasikuler,tekstur afanitik, komposisi mineral plagioklas,hornblend. Umur batuan beku andesit ini adalah Miosen berdasarkan hasil radiometri K/Ar terhadap mineral Hornblende.
3. Struktur Regional
struktur geologi di daerah penelitian terdiri atas :
1. Struktur lipatan
2. Struktur sesar
a. Struktur lipatan
Struktur lipatan adalah suatu bentuk deformasi pada batuan sediment,batuan vulkanik dan batuan metamorf yang memperlihatkan suatu bentuk yang mbergelombang (MARI AND P. BTLLINGS 1979)
Struktur lipatan yang berkembang di daerah Barru adalah :
Struktur sinklin waruwue
Struktur sesar waruwue sebagian besar terletak dibagian memanjang dari arah baratlaut ke tenggara dengansumbu lip;atana sekitar 10 km dan mempunyai benatu kyan relative melengkung dan merupakan suat usinklin asimetris. Satuan batuan yang menglami perlipatan adalah satuan batu breksi vulkanik yang diperkirakan ikut pula terlipat adalah satuan napal dan satuan breksi batugamping. Umur dari batuantersebut adal;ah Eosen Awal – Miosen Akhir ingga diperkirakan bahwa struktur sinklin waruwue terbentuk setelah Miosen Akhir.
b. Struktur sesar
Sesar merupakan suatu rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran sehingga terjadi perpindahan antara bagian-bagian yang berhadapan dan arahnya sejajar denga nbidang patahan (Sukendar Asikin 1979). Struktur sesar yang dijumpai pada daerah Barru bagia ntimur antar lain :
1. Sesar normal bale
2. Sesar geser Aledjang
3. Sesar Geser Buludua
a. Sesar Normal Bale
Sesar normal terletak disebelah utara dengan panjang sesar sekitar 250 m. sesar ini memanjang dari arah barat ke timur melalui dusun Bale,Galunsawae dan Buludua diptong oleh sesar geser Buludua. Bentuk sesar normal Bale ini relative melengkung dimana blok bagian selatan ralatif bergerak turun terhadap blok bagian utara satuan batuan yang tersesarkan terdiri dari satuan napal dan breksi batugamping
Berdasarkan pada umur batuan termuda yang dilalui satuan napal dengan umur Eosen Tengah maka diperkirakan sesar normal Bale terbentu ksetelah Eosen Tengah.
b. Sesar geser Aledjang
Sesar geser Aledjang terdapat adi sebelah barat laut dan merupakan sesar geser yang bersifat dexiral. Sesar geser ini mempunyai arah pergeseran relative ke timur laut-baratdaya denga npanjang pergeseran sekitar 200 m. sesar geser ini dicirikan oleh zona-zona hancuran batuan pada satuan napal yang ditemukan pad alereng permukaan gawir di dusun Aledjang.
Berdasarkan pada umur batuan yang termuda yan gdilalui maka diperkirakan bahwa sesar geser Aledjang terbentuk setelah Miosen Akhir.
c. Sesar geser Buludua
Sesar geser Buludua terdapat disebelah baratlaut dan merupakan sesar geser bersifat adextral. Sesar geser ini arah pergeseranya relative berarah baratlaut, tenggara dengan panjang pergeseran sekitar 2 km. satuan batuan yang dilaluinya terdiri atas napal dan satuan breksi gampingan akibat adanya sesar ini banyak ditemukan mata air disekitar daerah Bulubua.
Berdasarkan pada batuan termuda yang dilauinya yaitu satuan breksi vulkanik maka diperkirakan sesar ini terbentuk setelah Miosen Akhir
Selengkapnya...

Senin, 12 April 2010

Adobe Reader 9.3

Adobe Reader adalah sebuah aplikasi standar sederhana untuk membuka file PDF pada platform Windows. Adobe Reader berjalan dengan baik pada Windows XP, Vista dan Windows 7. Tidak hanya sebagai pembaca file pdf, tapi dengan program ini kita juga dapat membuat dokumen pdf, mencetak dan lainnya.



Adobe Reader kini hadir dengan versi terbarunya Adobe Reader 9.3. Dengan tampilan yang sederhana kini Adobe Reader lebih ringan dan cepat. Adobe Reader mudah untuk digunakan, karena program ini adalah salah satu program pembaca file PDF pertama yang sudah ada lebih dari satu dekade.
Selengkapnya...

Father of Geologi

Bapak Mineralogi Dunia
Pada 1556, 64 tahun setelah Columbus menemukan daratan yang disebutnya New World, sebuah buku dipublikasikan dari wilayah pertambangan di selatan Leipzig, Jerman. Ditulis dalam bahasa latin buku itu bertajuk: De Re Metalicca (Sifat-sifat Alami Metal).
Buku yang terbagi dalam 12 bab itu isinya membahas soal kandungan bijih besi, tambang, metode penambangan beserta alat-alat perlengkapannya, peleburan, kadar logam, tembaga, perak, timah, merkuri, dan antimoni. Memakai ilustrasi buku itu juga mengupas tentang emas, bismut, metal, dan seng.
Penulisnya, seorang dokter asal Jerman Georg Bauer lebih dikenal sebagai Georgius Agricola. Karya yang maha hebat itu mendunia setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Buku itu pun terkenal dikalangan insinyur pertambangan.
Tak heran bila Agricola pun dinobati sebagai penggagas ilmu geologi. Dia menyumbang studi lanjutan sistematik yang berkaitan dengan bumi, bebatuan yang terkandung di dalamnya, mineral, dan fosil. Menyumbang pengetahuan dasar tentang ilmu geologi pertambangan dan metalurgi, mineralogi, geologi struktur, dan paleontologi.


Bapak Mineralogi Dunia
Pada 1556, 64 tahun setelah Columbus menemukan daratan yang disebutnya New World, sebuah buku dipublikasikan dari wilayah pertambangan di selatan Leipzig, Jerman. Ditulis dalam bahasa latin buku itu bertajuk: De Re Metalicca (Sifat-sifat Alami Metal).
Buku yang terbagi dalam 12 bab itu isinya membahas soal kandungan bijih besi, tambang, metode penambangan beserta alat-alat perlengkapannya, peleburan, kadar logam, tembaga, perak, timah, merkuri, dan antimoni. Memakai ilustrasi buku itu juga mengupas tentang emas, bismut, metal, dan seng.
Penulisnya, seorang dokter asal Jerman Georg Bauer lebih dikenal sebagai Georgius Agricola. Karya yang maha hebat itu mendunia setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Buku itu pun terkenal dikalangan insinyur pertambangan.
Tak heran bila Agricola pun dinobati sebagai penggagas ilmu geologi. Dia menyumbang studi lanjutan sistematik yang berkaitan dengan bumi, bebatuan yang terkandung di dalamnya, mineral, dan fosil. Menyumbang pengetahuan dasar tentang ilmu geologi pertambangan dan metalurgi, mineralogi, geologi struktur, dan palaentologi.
Selengkapnya...

Senin, 05 April 2010

firefox 3.6.3

The Mozilla developers have just released Firefox 3.6.3, an update to the latest version of the Firefox web browser. This update fixes a critical security vulnerability in Firefox 3.6.2 making it a recommended update for all uses who have that version of the web browser installed. The exploit is only affecting Firefox 3.6 versions which means that users who are still running Firefox 3.6 or Firefox 3.6.1 should also update their version to the latest immediately.



Mozilla Firefox 3.6 – Faster, more secure, easier to use and sporting a new look, this latest Firefox release sets a new standard for web browser innovation. Mozilla Firefox project is a redesign of Mozilla’s browser component, written using the XUL user interface language and designed to be cross-platform. It is small, fast and easy to use, and offers many advantages over other web browsers, such as the tabbed browsing and the ability to block pop-up windows

Download : http://d60pc.com/redirectdownload/download-firefox.html
Selengkapnya...

Minggu, 04 April 2010

GEOLOGI REGIONAL BANTIMALA

Geologi Regional Daerah Bantimala

II.1 Geomorfologi regional

Secara regional daerah penelitian termasuk mandala Sulawesi barat berada pada lembar pangkajenne dan watampone bagian barat Sulawesi selatan ( Rab. Sukamto,1975 )
Terdapat du pengunungan yang memanjang hamper sejajr dengan daerah utara-barat laut yang dipisahkan oleh lembah sungai wallanae. Pengunungan di bagian barat menempati hamper setengah luasan daerah , melebar dibagian selatan menyempit di bagian utara. Puncak tertingginya 994 meter. Pembentuknya sebagian besar merupakan batuan gunung api. Di lereng barat dan beberapa lereng dibagian timur terdapat topografi karst yang mencerminkan adanya batugamping. Di lereng barat terdapat perbukitan yang dibentuk oleh batuan Pra-tersier. Pegunungan di bagian barat daya dibatasi oleh daratan pangkajenne maros yang luasannya sebagai lanjutan daratan dari selatan.
Pengunungan dibagian timur relatif lebih rendah dan sempit, dengan ketinggian rata-rata 700 meter dengan puncak tertinggi adalah 787 meter. Batuan penyusunnya juga sebagian besar adalah batuan gunungapi. Bagian selatannya mele4bar dan meninggi, dan keutaranya menyempit dan merendah dan akhirnya menujam kebawah antara lembah wallanae dan daratan bone yang sanygat luas. Bagian utara pegunungan ini bertopografi karst yang permukaannya berkerucut. Batasnya di timur laut adalah daratan bone.
Lembqh wallanae memisahkan dua pengunungan ini dibagian utara sebesar 35 kilometer , tetapiu bagian selatan hanya 10 kilometer saja. Bagian tengah dari sungai wallanae mengalir keutara, bagian selatan merupakan perbukitan rendah dan bagian utara terdapat daratan alluvial yang sangat luas ( Rab. Sukamto 1982).

II.2 Stratigrafi regional

Perkembangan evolusi geologi pulau Sulawesi dapat dibedakan menjadi empat jalur tektonik ( simanjuntak ,1966 ) , jalur continental banggai-sula , meliputi sualwesi bagian timur dan Sulawesi bagian tengah , jalur vulkanik dan plutonik meliputi daerah sulawesi utara. Sulawesi tengah bagian barat dan Sulawesi selatan. Jalur vulkanik plutonik identik dengan dengan mandala Sulawesi barat yang dikemukakan oleh ( rab. Sukamto,1982 ).
Stratigrafi mandala Sulawesi barat bagian selatan menurut ( rab. Sukamto,1982 ) merupakan kelompok batuan tua yang umurnya belum diketahui dengan pasti yang terdiri dari batuan ultrabasa, batuan malihan dan batuan-batuan mélange. Batuan terbreksisasi , tergerus dan mendaun, dan sentuhannya denga formasi di sekitarnya berupa sesar dan ketidak selarasan . penarikan radiometri pada sekis menunjukkan umur 111 juta tahun memungkinkan menunjukkan peristiwa malihan akhir pada tektonik yang terjadi pada zaman kapur .

batuan ini terdih dan tidak selaras oleh endapan flish formasi ballang baru dan formasi marada yang tebalnya kira-kira 2000 meter danberumur kapur akhir. Kegiatan magma pada saat itu sudah mulai ada dengan bukti adnay sisipan lava pada endapan flysh.
Batuan gunung api berumur pleosen yang diendapakan pada lingkungan laut menindih tidak selaras batuan flich yang berumur kapur akhir . batuan sedimen formasi mallawa yang sebagian besar dicirikan oleh endapan daratan dengan sisipan batubara , menindih tidak selaras batuan gunungapi pleosen dan flich kapur akhir. Di atas formasi mallawa ini secara berangsur-angsur beralih keendapan karbonat formasi tonasa terbentuk secara terus-menerus dari eosin awal sampai pada bagian bawah miosen tengah di barat. Sedimen klastik formasi salo kalumpang yang berumur eosen sampai oligosen bersisipkan batuan gamping dan mengatasi batuan gunungapi kala miosen awal di timur.
Sebagian besar pengununagn , baik yang berada di timur barbatuan gunungapi soppeng yang juga diduga berumur miosen tengah sampai plistosen awal berselingan dengan batuan gunung api yang berumur antara 8,93 – 9,20 juta tahun. Secara bersamaan batuan tersebut menyusun formasi camba yang tebalnya sekitar 5000 meter. Sebagian besar pegunungan yang di barat terbentuk dari formasi camba. Ini yang menindih tidak selaras formasi tonasa.
Selama miosen awal sampai pliosen , didaerah yang sekarang menjadi lembah wallanae diendapakan sedimen kalstik formasi wallanae. Batuan ini tebalnya sekitar 4500 meter.

II.3 Struktur geologi regional

Hide, dkk (1967,1977) dalam Sukamto (1985) mengemukakan bahwa gerakan lempeng pasifik ke arah terjadi pada Miosen Awal, sehingga berbagai mikrokontinen di Indonesia bagian Timur makin terdorong ke barat mendekati sistem busur palung sulawesi. Pada Miosen Tengah gerakan ke barat tersebut menyebabkan mikrokontinen Banggai-Sula dan Tukang Besi membentur busur Sulawesi Timue, dan Busur Sulawesi Timur melewati sistem busur-palung Sulawesi Barat.
Van Leeuwen (1979), menerangkan bahwa pola struktur Lengan Selatan Pulau Sulawesi, yaitu struktur sesar Walanae, searah dengan sesar geser Palu Koro di Sulawesi Tengah. Sesar Walanae terbagi dua yaitu sesar Walanae Barat dan sesar Walanae Timur yang terbentuk pada Kala Plio – Plistosen.
Rab Sukamto (1982), berpendapat bahwa kegiatan tektonik pada Kala Miosen Awal menyebabkan terjadinya permulaan terban Walanae yang memanjang dari utara ke selatan pada Lengan Sulawesi bagian barat. Struktur sesar berpengaruh terhadap struktur geologi sekitarnya. Tekronik ini menyebabkan terjadinya cekungan tempat terbentuknya Formasi Walanae.
Peristiwa ini kemungkinan besar berlangsung sejak awal Miosen Tengah, dan menurun perlahan selama sedimentasi sampai Kala Pliosen. Menurunnya Terban Walanae dibatasi dua sistem sesar normal, yaitu sesar Walanae yang seluruhnya nampak hingga sekarang di sebelah timur, dan sesar Soppeng yang hanya tersingkap tidak menerus di sebelah barat.
Selama terbentuknya Terban Walanae, di Timur kegiatan gunungapi terjadi hanya di bagian selatan, sedangkan di barat terjadi kegiatan gunungapi yang merata dari selatan ke utara, berlangsung dari Miosen Tengah sampai Pliosen. Bentuk kerucut gunungapi masih dapat dia amati di daerah sebleh barat ini, suatu tebing melingkar mengelilingi G. Benrong, di utara G. Tondongkarambu, mungkin merupakan suatu sisa kaldera.
Sesar utama yang berarah Utara – Baratlaut terjadi sejak Miosen Tengah, dan tumbuh sampai setelah Pliosen. Perlipatan yang berarah hampir sejajar dengan sesar utama diperkirakan terbentuk sehubungan dengan adanya tekanan mendatar berarah kira-kira Timur Barat pada waktu sebelum akhir Pliosen. Tekanan ini mengakibatkan pula adanya sesar sungkup lokal yang mengsesarkan batuan Pra-Kapur Akhir di daerah Bantimala ke atas batuan Tersier. Perlipatan dan pensesaran yang relatif lebih kecil di bagian Timur Lembah Walanae dan di bagian Barat pegunungan yang berarah Baratlaut – Tenggara, kemungkinan besar terjadi akibat adanya gerakan mendatar tekanan sepanjang sesar besar.
Selengkapnya...